Mungkin sudah cukup
umum ketika sebuah desa memiliki kesenian jaran kepang (kuda lumping). Namun,
jaran kepang di Desa ini sedikit berbeda dengan yang disajikan di desa lain.
Kuda lumping disini tidak menonjolkan unsur ekstrim ketika ada salah satu
pemain yang kerasukan. Mereka lebih menonjolkan unsur intrinsik di dalamnya.
Jaran Kepang yang bernama “Argo Laras” ini tidak mengedepankan tarian kuda
lumping, memang sepintas mirip namun jika Anda menyaksikan dengan seksama,
tarian tersebut berisikan sebuah kisah tentang perang tandhing antara Haryo Panangsang dan Danang Sutawijaya.
Ketika Anda menonton secara
langsung Anda akan dikejutkan dengan sebuah pentas yang sederhana namun indah,
alunan musik yang tegas, menggema, dan seirama. Paduan suara saron, demung,
kendang dan gong yang juga dibubuhi sedikit sentuhan alat musik modern seperti bass,
dan piringan drum membuat suara yang dihasilkan semakin sedap didengar.